Empat Air Terjun Bersamamu !


Aku pulang, ya, aku Pulang !

Pulang kemana emang?

Ya pulang ke rumah emak! Mana mungkin aku pulang ke hatimuuuu…

Begitulah, 3 bulan itu terasa lama apabila kita lalui dengan penantian pulang kampung. Kapan pulang? Apakah mungkin aku masih bisa pulang kampung? Aku sudah capek di rantau! Kangen emak, kangen bapak, adik dan hewan peliharaan…. (berat nih yang terakhir kayaknya)
On Job Travelling selama 3 bulan cukup menguras tenaga juga. Ini baru OJT capeknya kayak gini. Kadangkala aku berpikir, bagaimana kalau semisalnya udah kerja full time? Apakah masih bisa menahan rasa lelah untuk melayani sang suami? Semoga Iya!
Tiket sudah kupesan dua minggu sebelum kepulanganku. Seperti biasa, Garuda jadi langganan gara-gara daftar Garuda Frequent Flyer, jadi sebisa dan sesering mungkin harus pakai garuda untuk naik grade dari blue menjadi silver. Semua ini gara-gara menteri keuangan PLN Labuan Bajo, Mas Isce yang gencar promosi GFF, jadilah kami rame-rame berburu tiket Garuda (aslinya buat gaya-gayaan aja).
Hari yang kunanti akhirnya datang juga. Sebenarnya ngenes juga sih mau ninggalin propinsi kepulauan ini mengingat petualanganku yang serba seru disini, tapi semua itu demi melepas kerinduan sama orang yang tersayang di kampung, aku harus lebih merelakan ke-ngenes-an itu aku rasakan.
Sekitar dua jam melayang bersama Garuda dengan pesawat Bombardier CRJ 1000 Next Generation dengan penumpang 80% anak PLN, akhirnya landing juga di Juanda. Awal ketemu emak aku langsung jingkrak-jingkrak kayak anak cewek baru puber yang disenyumin cowok cakep.
Sebenarnya jingkrak-jingkrakku bukan gara-gara ketemu emak dan bapak saja, tapi bayangan akan travelling bersama seorang cowok (cakep juga sih) sudah terbayang jelas di benakku. Sebut saja dia Hafidh (bukan nama samaran). Rencana sudah disusun selama OJT, dari rencana jalan-jalan hingga pemalakan liar masalah oleh-oleh dan traktiran. Huft -_-

31 Maret 2014, akhirnya hari itu tiba ! 

1. Antrukan Pawon
“Jadinya kita kemana?” aku tanya pada Hafidh. Sialan, gugup juga. Kenapa juga aku selalu bingung kalau ngomong sama orang satu ini. Aku mengutuk dalam hati.
“Antrukan Pawon, iya kan mbak?” jawabnya.
“Oh,”  aku menjawab singkat, lalu langsung naik ke boncengan dan melanjutkan jawabanku dalam hati dengan bahasa Manggarai, “Iyooooo ite, Cunca Antrukan Pawon eee….”
Ini rencananya kami bakal mengunjungi beberapa air terjun di Gucialit, sekitar kawasan kebun teh. Bersama partnerku yang berusia 20 tahun tapi bermuka bayi dan dua orang temannya yang sudah stand by di Gucialit.
Setelah melakukan pertemuan kecil dengan mas Irawan (bosnya g’OWA : semacam organisasi bocah Gucialit) lalu kami melanjutkan perjalanan ke tujuan utama kami, yaitu Antrukan Pawon.
Perjalanan ke Antrukan Pawon? Beberapa ruas jalan ada yang rusak dan berliku. Tapi kami disuguhi dengan pemandangan alam dengan hawa yang sejuk dan sayup-sayup gemericik air dengan siulan burung. Damai sekali rasanya, cocok untuk melepaskan pikiranku dari kekusutan masalah keteknikan PLN yang tak kunjung usai. Berkali-kali aku merusut kedepan gara-gara kondisi jalan yang menurun, kadangkala juga aku teriak kecil, refleks sih, bukan alay atau cari perhatian.
Melewati beberapa ruas jalan macadam, akhirnya sampai juga di ‘pos’ awal trekking. Wadow, masih trekking pula bro, katanya Mas Irawan jalan Cuma 15 menit. Okelah, kecil untuk bocah preman sepertiku.
Tapi, kata siapa 15 menit. Katanya orang Manggarai-Flores : ‘Joak eeee..’ alias tipu-tipu.  Jalan menuju air terjunnya sekitar 30 menit untuk berangkatnya, dan 45 menit untuk kembali karena jalan yang naik.
Dibalik Gua
Penampakan Antrukan Pawon? Mirip seperti Madakaripura bayi, Air terjun dibalik gua. Membentuk tirai air diantara batu yang membingkainya. Lumut-lumut tumbuh subur disela bebatuan, beberapa diantaranya membuat sebongkah batu menjadi lapuk. Kesalahan trekking kali ini sama seperti edisi pendakian bukit cinta : Tidak membawa air minum setetes pun. Padahal trekkingnya cukup membuat sweat out. Capek juga.
Antrukan Pwaon Dari Sisi Atas.
2. Semingkir
Selanjutnya kemana? Katanya Hafidh, bertekad untuk mau mengunjungi seluruh air terjun di Gucialit, mumpung disini. Aku sih iya-iya aja, kalau tidak sekarang, kapan lagi?
Semingkir
Mencari Hati yang Terbawa Aliran Air #eeaa
Tujuan selanjutnya adalah Semingkir alias air terjun bayi (Haduh semua-semua disebut bayi ya :P) maksudnya adalah air terjun kecil, bisa dipanjat dindingnya. Airnya segar dan lebih jernih daripada di Antrukan Pawon. Diantara air terjun yang lainnya, aku paling suka dengan air terjun ini, soalnya tekstur dinding air terjunnya unik ! Mungkin air telah mengikisnya setiap hari sehingga membentuk pola mirip seperti sisik ikan. Pengorbanan untuk mencapai kesini dibayar dengan empat buah lebam di betis kiriku gara-gara freefall dari motor dan kakiku membentur batu.

3. Kali Gedang 
Kali Gedang
Katanya Christina Perri : One Step Closer, hahah

Tak jauh dari Semingkir terdapat air terjun Kali Gedang, wajar lah dinamakan kali Gedang karena disana merupakan perkebunan pisang. Aku sempat ‘mbrasak’ atau menerabas semak-semak untuk lebih mendekatkan diri dengan air terjunnya. Susah juga untuk ‘mbrasak’ nya. Salah jalan sedikit bisa terjun konyol ke kolam :)
Kami sempat bikin sepasang pasangan mabuk cinta di atas bebatuan terusik sehingga tak lama kemudian mereka melarikan diri. Entah gara-gara malu atau malas melihat wajah-wajah usil kita, hahaha.

4. Air Terjun Kertowono 
Air Terjun Kertowono

Destinasi yang terakhir adalah air terjun Kertowono, atau air terjun yang paling terkenal di Gucialit. Disana sudah ada warung dan retribusi parkir. Dari tiga air terjun yang telah kami kunjungi, hanya ini saja yang cukup ramai pengunjungnya, untuk air terjun sebelumnya, kalau nggak diisi orang pacaran ya anak-anak kecil yang mandi rame-rame. Tapi menurutku air terjun ini terkesan kurang alami, tampak seperti kolam, tidak seperti terakhir aku kesini, tahun 2009 saat aku kelas 12  SMA.
Oh ya, sekedar saran, kalau mau ke air terjun di kawasan Gucialit, jangan saat musim kemarau panjang, karena airnya bakalan kering >_<

Walau destinasi terakhir, rasanya belum lengkap kalau belum berfoto di kawasan kebun teh dan rumah tua disekitarnya. Pemandangannya yang bagus, didominasi dengan perbukitan dengan pohon tehnya, nampak seperti di film Heart, hahaha.
Mirip-mirip Heart :D
Kata Hafidh Aku Mirip Penunggu Rumah Kuno ?
Setelah itu kami mengucapkan terima kasih pada Mas Irawan, dan selanjutnya aku harus memenuhi pemalakan yang sudah dilakukan oleh Hafidh. Kalau tidak, aku mau digelundungin hidup-hidup katanya -_-

Dear Hafidh, see you next trip :D

Unesia Drajadispa

1 comment:

Anonymous said...

ups dapet kiriman liebster award dari your secret admirer, http://hafidhmind.wordpress.com/2014/06/03/have-fun-with-liebster-award/