Pendakian Gunung Penanggungan Lewat Jalur Tamiajeng

Thursday, January 09, 2014

Bebas dari diklat, itu berarti terbebas juga dari hati yang terpenjara. Bagaimana tidak? 3 bulan nggak boleh kemana-mana bung, bisanya berkeliling bagaikan burung dalam sangkar, hanya bisa menanti apa yang diberikan oleh tuannya. Please, kami selama diklat itu disayaaaang banget :3 tapi cara menyayangi kami itu kadang-kadang  malah bikin bosan dan dongkol. Kalau melihat orang lalu-lalang dijalan raya, rasanya iri setengah mati…
Tanggal 30 Desember 2013, hari yang paling bersejarah, aku bebas dari hati yang terpenjara. Setelah post test yang hasilnya cukup memuaskan, akupun pulang ke Surabaya. Karena aku punya rencana luar biasa untuk keesokan harinya :)

31 Desember 2013
Aku mulai deg-degan. Takut rencanaku mendadak dilarang ortu gara-gara tempat On Job Training-ku di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Takut staminaku mendadak drop. Tapi aku bersikeras bakal baik-baik aja, karena aku tahu sebuah kesempatan langka dan indah itu layak untuk diperjuangkan ! Kalo rencana pendakian gunung selalu ada aja banyak hambatan. Terutama persetujuan dari emak, hehehe.
Jadilah, pukul 17.30 WIB , aku berangkat dari eks kampus tercinta, ITS untuk memulai petualangan yang selalu aku mimpikan selama hatiku masih terpenjara. Walau badan lelah juga dan khawatir bakal turun hujan, tetapi aku tetap positive thinking, everything will be ok. Persiapan fisik pun aku rasa cukup, karena selama diklat aku sering jogging pagi.
Oh ya, saat itu yang ikut dalam pendakian ada 4 orang, semuanya ITS angkatan 2012, kecuali aku, tapi masih seumuran, haha. Walaupun gitu aku kok merasa udah jadi emak-emak XD
Perjalanan menuju Trawas, Surabaya sekitar 2-2,5 jam. Trawas, ada desa Tamiajeng yang merupakan pos pendakian Gunung Penanggungan. Selain Tamiajeng ada juga pos Jolotundo. Aku udah bayangin selama diklat, betapa indahnya melihat kembang api dari ketinggian sana :D
Pendakian kami mulai dari jam 21.00 dengan target pukul 00.00 sudah berada di camp site puncak bayangan, menikmati tahun baru dari sana, benar-benar sesuatu yang langka, karena selama ini aku hanya biasa tidur saat malam tahun baru :D
Selama pendakian, kami bareng sama grup lain karena memang masih belum tahu jalur. Apalagi pendakian malam, suram banget. Habis hujan pula, jadi treknya licin dan nyebelin . Treknya naik terus, nggak ada yang landai didominasi dengan bebatuan sedang yang bikin makin seru trekking. Menurutku, ini mirip seperti pos 3 menuju Ranukumbolo tapi nggak ada ujungnya. Walaupun Penanggungan memiliki tinggi ‘hanya’ 1653 mdpl, tapi trekknya benar-benar menguji sampai batas maksimal ketahanan kakiku.
Jalur yang licin sukses membuatku terpeleset berkali-kali. Jaket baru tak ayal menjadi kotor. Tapi berhubung gerah, maka jaket kulepas juga. Nafas ngos-ngosan. Tapi begitu menengok ke belakang, tak terasa diriku sudah berada diatas awan, kembang api mulai bersahut-sahutan. Sayup-sayup ada pendaki lain yang berteriak karena telah mencapai puncak bayangan. Oke, aku nggak mau kalah !
Pemandangan kota dibawah ketinggian 1000 m
Pukul 00,00, kami telah berada di puncak bayangan. Estimasi waktu yang pas! Sambil mengatur nafas kami menikmati pemandangan yang sangat indah dibawah sambil bales sms temen. Aku kira selama ini hanya bisa mimpi, tapi sekarang menjadi nyata. Oh ya, berhubung angin bertiup kencang, jadi kami memilih untuk tidur dan tidak ngopi setelah menikmati kembang api. Frohes neues jahr  :)
Kembang api terekam kamera
 1 Januari 2014, 04.30
Aku dibangunin temenku untuk sholat subuh, padahal masih ngantuk berat. Diluar dingin banget. Tapi targetku adalah ngecengin sunrise di puncak, maka dari itu aku harus bergegas.
Pukul 05.00, aku sama seorang temenku naik puncak, hanya berdua. Yang lainnya jagain tenda. Dan, apa yang terjadi? Treknya gila banget, enam puluh derajat dengan jalanan yang licin dan penuh batu. Untung banget nggak bawa carrier. Gunung yang selama ini indah kupandang dari tempat diklatku di Pandaan, punya trek spektakuler kayak gini? Hahaha. Lanjut aja bung, walau kakiku memar karena bolak-balik terpeleset dan terbentur batu. Aku yakin, puncak pasti indah !
Serem bro kalo liat bawah


Apalagi trek kepuncak kayak gini -_-
  1,5 jam menuju puncak untuk mencapai gemilang cahaya sunrise. Ternyata, langit mendung. Kelabu, hanya ada gumpalan awan. Hanya tampak semburat jingga pucat di kejauhan. Kecewa banget, haha. Aku hanya bisa memandang semburan lumpur lapindo, jembatan Suramadu,  kota Surabaya, kali Porong, Arjuno-Welirang, dan kota-kota ‘kurcaci’ dibawah sana. Benar-benar gunung tengah kota yang indah ! Tapi aku tetap seneng, karena masih bisa foto-foto. Gunung Semeru aja nggak kelihatan -_- tapi aku masih bisa melihat awan melintas didepan mataku  dengan langit yang agak biru :)
Semburan Lapindo
Puncaaaak !
Karena kabut mulai turun, aku pun memutuskan untuk turun juga. Turun dari puncak kaki tambah sakit karena menahan berat badan agar nggak terpeleset. Perut udah lapar banget, bayangan mie rebus udah melayang layang di kepalaku :D
Pulaaang


Setelah sampai di camp site, aku langsung buat mie. Diselubungi oleh kabut tipis. Setelah itu kami putuskan langsung pulang, capek, apalagi besok partnerku harus kuliah pagi.
Perjalanan turun? Parah banget. Karena udah capek, aku terpeleset berkali-kali hingga keseleo. Kakiku udah lemes sambil berjalan terseok-seok. Aku langsung pulang kampung ke Lumajang, karena emak sudah harap-harap cemas. Sebelum tidur aku sempatkan merendam kaki dengan air hangat, memijat kakiku dengan krim otot dan membersihkan carrier.
 Keesokan harinya, bangun tidur badanku sakit semua, jalan pun nggak bisa normal, haha. Selama 3 hari pun masih sakit banget. Tapi terselip rasa bangga dalam hati: ‘Impianku selama diklat terkabul, yey!’

*Terima kasih partnerku yang udah capek nemenin aku, semoga sukses, sehat , dan selalu dalam lindungannya :D





You Might Also Like

0 comments

Subscribe