Tujuh Pemuda Tadabbur Alam Ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Tuesday, October 15, 2013



Alhamdulillah, segala Puji Bagimu Allah, Tuhan Semesta Alam. Aku sangat bersyukur bisa mengunjungi hamparan surga di bumi Semeru. Impianku semenjak SMU, sebelum film 5 cm tercipta akhirnya tercapai juga. Indah nian pemandangannya. Walaupun cukup banyak halangan dan kontroversi saat aku hendak menuju kesini. Tapi akhirnya, aku mencoba menepis semua keraguanku. Aku harus bisa mencapainya sebelum aku lulus, Sebelum aku bekerja, apapun yang terjadi !
Awalnya aku memang terkapar lemah di ranjang kosan. Sakit demam dan influenza. Padahal ke Semeru tinggal beberapa hari lagi. Aku berdoa, semoga diberi kesembuhan. Aku sendiri udah beli tas gunung dan sandalnya. Nggak mungkin banget aku meninggalkan semuanya. Sudah packing juga. Emakku sebenarnya udah melarang karena kesehatanku belum pulih betul. Aku ngotot aja, pasti sembuh.
Satu hari sebelum keberangkatan, aku dapat kabar dari temaku bahwa keberangkatan diundur dikarenakan beberpa hal. Diundur tiga hari. Entahlah, aku bahagia atau tidak, yang jelas ada harapan agar tubuhku kembali fit. Dan kabar buruknya, hari keberangkatan berbenturan dengan jadwal pengumuman kesehatan PLN. Sudah bisa diduga, orang tuaku kebingungan, dan aku berusaha meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Segala keperluan logistik, Sleeping bag, matras, tenda, sudah kusiapkan dari pinjeman teman-teman. Tinggal berdoa dan berangkat. Eh sial pemberangkatan yang rencananya jam 13.00, ditunda ashar, dan ditunda lagi subuh. Hatiku khawatir banget, khawatir nggak jadi. Ya Allah, semoga aja jadi. Kutelepon temanku berkali-kali. Pasti jadi kok.
Sumpah persiapannya repot banget. Kalau aku sih persiapan fisik kayak joging, senam-senam ringan. Lalu untuk makanannya aku bawa mi instan dan bubur. Cemilan dan air 1,5 L juga. Untuk air jangan banyak-banyak karena disana banyak sumber mata air yang segar dan alami.
Jadinya kita berangkat dari Surabaya setelah shubuh naik motor menuju Tumpang, Malang. Sebenarnya lebih keren lewat Lumajang tetapi lebih jauh karena kami berangkat dari Surabaya. Aku bersyukur banget akhirnya bisa pergi juga, kesehatanku udah fit beneran, walau sedikit ketakutan dengan hasil tes kesehatanku juga. Normalnya perjalanan hanya 2,5 jam, tapi berhubung banyak rintangan seperti ban bocor, terus perut lapar, jadinya perjalanan agak lama juga.
Sampai di Tumpang kira-kira pukul 9.30 WIB. Yang cowok-cowok bertugas untuk  mencari dan menawar harga jeep untuk naik ke Ranupani. Untunglah ada salah seorang teman yang pernah ke Semeru, jadinya agak tenang karena dia bisa jadi Guide gratisan kita. Aahh…akhirnya arek cillik Lumajang yang dulu bisanya tolah-toleh akhirnya bisa ke Ranukumbolo, impian yang ia pendam sejak lama!
Happy On the Jeep
Selama perjalanan naik jeep, sumpah sakit semua karena pinggangku terbentur, perutku juga. Jalannya sangat berdebu dan berbatu, naik juga. Tapi pemandangannya keren banget, nggak mungkin bisa dilupakan kecuali kalo otak udah diformat, hahaha.
Kutatap Bromo Dari Atas Sini
Selama perjalanan, kami melewati beberapa kawasan wisata, seperti Coban Pelangi, lalu melewati bukit bergurat yang indah yang merupakan gugusan gunung Bromo. Bibir Kami tak berhenti bergetar mengucap kekaguman, tak jarang juga mengabadikannya. Kami semua sukses menepis keraguan bahwa menaklukan trek itu mudah. Sungguh, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru emang indaaaaahhh !
Sekitar 2 jam kami udah nyampai Ranupani di Kabupaten LUMAJANG, bukan MALANG. Entah kenapa aku kok nyesel ya sama film 5 cm kok nggak nyebutkan LUMAJANG, tapi MALANG. Dan banyak  pendaki yang bilang Ranupani itu di MALANG, bukan LUMAJANG. Masyaallah, ini perlu diluruskan pemahamannya.
Kami siaaaap !
(Ki-ka : Heri keplek, Une, Cak Septian, Wahyu, Eka, Cak Killa, Pak Wo)
Udara di Ranupani cukup sejuk, airnya sedingin es. Kami rehat sebentar, shalat dan cuci muka, lalu segera menuju  ke titik awal penginapan kami, Ranukumbolo. Danau tertinggi di Jawa. Lebih rendah dari Titicaca di Peru.
Sepanjang perjalanan aku banyak mengeluhnya. Treknya emang nggak terlalu sulit buat pendaki cilik kayak aku. Cuma cukup bikin ngos-ngosan. 10,5 kilometer men, sungguh perjalanan itu rasanya tidak akan pernah berakhir. Dikit-dikit istirahat, minum Madurasa, makan roti. Aduh, jauh banget. Kami melewati Watu Rejeng, bukan gunung Ayek-Ayek. Walaupun capek nggak ketulungan, tapi pengen ngulangi lagi. Sepanjang perjalanan kami sering menyapa para pendaki lain yang baru turun. 
Pos Satu Yang cukup Panjang !
Istirahat sebentar, capeek
Kabut sudah mulai turun, padahal baru pukul 14.00. Kami bergegas meneruskan perjalanan. Tetes air mulai terasa, tapi kami harus segera sampai untuk beristirahat dan makan. Walaupun pos 3 sungguh berat sekali !
Pukul 17.00. Akhirnya sampai juga, 5 jam perjalanan. Ranukumbolo, danau tertinggi di Pulau Jawa. Aku rasanya tak mempercayai bahwa kakiku yang sedari tadi rewel akhirnya sampai juga. Alhamdulillah. Kami segera mendirikan tenda. Dan hawanya aduhai dinginya ! Angin yang berhembus dari bukit sebelah kanan kami membawa aroma kotoran manusia. Yeeekk..emang wc alam, jadinya harus dinikmati saja lah. -_-
Tenda sudah berdiri. Kami segera shalat dan makan. Lalu segera masuk ke dalam sleeping bag untuk mengembalikan stamina untuk hari esok.

15 September 2013.
Kami tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak, tapi untuk having fun! Sekuat fisikku aja. Oh iya, kami bertujuh, 4 cowok dan 3 cewek. 

Matahari pagi yang indah :)
Hawanya dingin banget, saking dinginnya, menyentuh sesuatu aja nyeri banget. Tetapi sang surya mulai datang, menyembul dari bukit, subhanallah, kehangatan itu akhirnya muncul juga. Kami semua berembug untuk melanjutkan perjalanan. Minimal sampai Kalimati.
Tanjakan Cinta Penguras Energi
Perjalanan akhirnya dimulai. Kami sudah siap untuk melalui trek pertama : Tanjakan Cinta. Dan aku nggak pernah percaya dengan mitos yang beredar di kalangan pendaki yang katanya bakalan mendapatkan jodoh. Emangnya jodoh di tangan tanjakan cinta? Hehe
Oro-Oro Ombo
Setelah tanjakan cinta, kita disambut dengan sabana Oro-oro ombo yang superluas. Asalnya bunga di Oro-oro ombo berwarna ungu, berhubung musim kering jadi coklat. Kami tetap bersemangat mencapai pos selanjutnya, Cemoro Kandang.
Sampai di Cemoro Kandang, angin mulai kencang, suara angin menderu yang seringkali disebut angin kereta. Di Cemoro Kandang didominasi dengan vegetasi cemara gunung. Temanku nyebut dengan sebutan tanjakan putus asa, karena jalannya naik terus dan membosankan !
Selama di ‘tanjakan putus asa’ kumat ngos-ngosanku. Dikit-dikit berhenti, minum. Sama temenku cowok disemangatin kalo tinggal dikit lagi Jambangan. Padahal sumpah masih jauh dan hampir bikin putus asa aja !

Istirahat  dulu di Jambangan
Tapi nggak lama kemudian kami sampai di Jambangan. Kubah gunung Semeru mulai terlihat. Kami semua istirahat agak lama sambil foto-foto dulu. Berhubung aku bawa power bank jadi kameraku yang dipake terus-terusan. Trek menuju Kalimati dari Jambangan sangat ringan dan tidak jauh, jalannya landai.
Edelweiss....
Kalimati...Sayang Mahameru Berselimut Kabut :(
Kalimati, 2900 Above Mean Sea Level
Akhirnya kami sampai juga di Kalimati. Kakiku udah letoy banget. Beberapa teman yang lainnya mencari air di Sumber Mani, sumber air terakhir. Sedangkan aku memasak makanan. Kami nggak ada niatan untuk berkemah disana, Cuma mampir, terus balik ke tenda. Walaupun banyak pendaki yang bilang sayang kalau nggak sampai puncak, tapi aku tetap fun kok! Niat kami bersenang-senang, bukan untuk menaklukkan puncak. Sebenarnya sih gara-gara kakiku udah patah-patah ginii. :D

Sekitar pukul 14.30 kami balik ke tenda. Ah, menyenangkan sekali. Dari Kalimati aku dapat melihat kubah Mahameru dan guratannya sangat jelas. Kabut yang adem, dan fenomena angin kereta yang menderu-dan menabuh-nabuh gendang telinga. Ah….aku senang sekali!
Menghangatkan Diri !
Sekitar pukul 17.00 kami udah sampai di tenda. Capek semua. Ditambah hawa yang dingin makin menambah ngilu tulang. Tetapi kami tetap gembira, membuat api unggun dan susu hangat, lalu bersenda gurau sepuasnya, bercerita hantu, mengkhayal dan menjadikan kami semua puitis sambil menatap gemintang. Bahagia sekali!

16 September 2013
Masak dan makan Besar !
Waktunya kembali ke Surabaya. Kami packing dan masak besar-besaran. Semua logistik harus habis hari itu juga untuk mengurangi beban. Kami juga dapat bocoran potong kompas melalui Gunung Ayek-Ayek dari warga sekitar, kalau lewat sana bisa menghemat separuh waktu daripada Watu Rejeng. Ya sudah, kami semua memutuskan lewat sana, karena ingin segera sampai dan hitung-hitung trek baru.
Perjalanan Pulang :)
Ealah ternyata lewat gunung Ayek-Ayek makin menyengsarakan. Jalannya naik terus, setelah sampai puncak jalannya turun terus, bikin kaki tambah keki dan stress. Jalannya berdebu parah, dan hanya menghemat waktu satu jam saja daripada Watu Rejeng. Oh men, mukaku udah coreng moreng debu Semeru -_-
Panorama Perkampungan dan Perkebunan Warga dari Jalur Gunung Ayek-Ayek
Jalur Gunung Ayek-Ayek melalui perkebunan sayur warga, pemandangannya lebih alami dan  penuh dengan perbukitan. Akhirnya sampai juga di Ranupani dengan penuh penderitaan selama perjalanan. Nafas bengek gara-gara debu yang berterbangan akibat langkah kita.
Di Ranupani, kami segera mandi dengan air yang sedingin es, persiapan untuk meninggalkan Semeru, gunung abadi tempat bersemayamnya para dewa. Aku tak pernah menyesali, mengorbankan pengumuman kesehatan demi Semeru, yang indah.
See Ya !
Dewa 19 – Mahameru
Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut Ranu Kumbolo…Menatap jalan setapak
Bertanya – tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta
Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa
Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta
Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa….

You Might Also Like

0 comments

Subscribe