Kesemaptaan PLN Angkatan 37

Sunday, October 20, 2013

Dag dig dug dag dig dug ngeri juga menunggu kegiatan yang konon ‘dapat’ merubah hidup kita. Emang terkesan hiperbolis sekali, tapi berdasarkan cerita dari angkatan sebelumnya, mereka mengaku kapok dan cukup sekali saja mengikuti kegiatan yang katanya horor. Selain itu katanya sih tahap terberat dalam diklat prajab PLN adalah Kesemaptaan ini. Setiap hari ditakut-takutin sama senior, yang diginin, digituin. Hmm...mampukah aku melewati semua tahapan itu walau dengan nyali yang makin menciuuut?
Mau nggak mau akhirnya hari itu datang juga. 1 Oktober 2013. Katanya orang masuk kandang macan. Sebelum mengikuti kegiatan itu, aku melihat-lihat foto Kesemaptaan angkatan 24, dan dari situ aku berpikiran bahwa kegiatan kesemaptaan itu seru dan mirip Pramuka semasa SMA, yah sebenarnya untuk menghilangkan depresi aja sih, hehehe :)
Tapi aku juga nemukan kesemaptaan versi lain untuk calon pegawai bea cukai. Tambah parah dan ngeri, kelihatannya nggak ada asik-asiknya !
Akhirnya calon dari ITS berangkat dari kantor PLN Disjatim hari Minggu naik bus. Perjalanan yang cukup panjang membuat pantat tambah panas, ditambah pikiran makin panas mikirin kita bakal jadi apa disana? Haha. Bagaimana tidak, kita cewek manis, kalem, yang biasanya duduk-duduk di kafe masuk ke PUSDIKPASSUS BATUJAJAR dan dilatih oleh Kopassus?
Sampai disana kira-kira subuh. Sampai sana, di PUDIKPASSUS BATUJAJAR keder banget karena ada tulisan “ANDA RAGU-RAGU KEMBALI SEKARANG JUGA”. Sempat gemetar juga, auranya serem. Busyet dah kita langsung masuk barak putri dan membersihkan diri. Baru 10 menit berjalan, langsung disambut teriakan khas dari pelatih yang menyuruh kami sarapan. Langsung deh kocar-kacir ganti baju. Soalnya kalau telat katanya dapat hukuman yang mengerikan....hiiii
Setelah itu seragam dan sepatu dibagikan. Seragam berwarna hijau tua dan sepatu boots dengan tulisan TNI-AD, ada sabuk dan topi rimba. Atributnya militer banget deh. Mereka menyebutnya seragam PDL (Pakaian Dinas Luar). Aku bingung juga, pusing juga nih kaki kalau setiap hari pake sepatu PDL, udah berat, sakit, keras, panas pula. Duh, bakalan lecet dan jamuran nih kaki. Selain seragam dan sepatu, kami juga mendapat peralatan makan dan mug untuk minum. Baru besok acara dimulai, kita udah disuruh baris dan nyanyi. Dikit-dikit baris kayak anak bebek. Mau makan baris, katanya temenku kayak di penjara aja, apalagi makannya di ompreng dengan tulisan TNI-AD. Hiyaaah... Tapi aku bersyukur masih bisa makan. Aku harus makan yang banyak karena fisik kami diperas habis-habisan. Khawatir sakit.
Sebenarnya aku udah mempersiapkan fisik jauh-jauh hari, mulai dari joging dan naik gunung. Dan ternyata benar, selama di Pusdikpassus ini kita jalan dan nyanyi yang keras lagu-lagu korsa. Baris harus rapi dan jalan harus cepat. Kaki rasanya udah nggak karuan lagi rasanya. Tabir surya dengan sun protection factor 50 sudah menjadi kawan sehari-hari. Push up? Sudah biasa. Sakit batuk pilek  panas? Penyakit biasa. Tapi untunglah aku sehat-sehat saja selama di Pusdikpassus, karena aku menjalaninya dengan bahagia ! Suer deh. Aku tetap tabah, saat itu adalah masa-masa disiplin paling hebat !
Running
Persiapan snapling
Tapi jujur ya, aku suka banget dengan acara ini, seru! Banyak teman dari berbagai daerah yang mengajariku macam-macam bahasa dan budaya, merasakan kebersamaan dan keberanian. Kegiatan yang penuh tantangan dan ketinggian aku selalu menantinya dalam setiap malam hingga aku nggak bisa tidur. Habisnya kalau materi aku ngantuk banget di kelas.
Dan permainan yang aku tunggu akhirnya tiba juga. Mountaineering. Permainan yang berhubungan dengan ketinggian, seperti snapling dan running di papan. Biasanya di lakukan di tebing tapi kali ini dilakukan di papan sembilan puluh derajat dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi. Ada juga permainan luncuran, titian tali dua dan rayapan tali satu yang bikin pegal semua, haha.
Beberapa hari kemudian, kejutan  yang paling aku tunggu datang juga, yaitu main ke Situ Lembang. Situ Lembang merupakan kawasan dekat Tangkuban Parahu, danau yang sangat indah tetapi dibuat latihan perang oleh kopassus. Jadi cukup banyak ranjau disana. Tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Jadi aku beranggapan cukup spesial ya cewek lemah lembut bisa masuk ke lokasi perang kayak gini. Hehe.
Selama kegiatan selalu ditemani dengan suara tembakan dan letusan. Cukup kaget saja dan serasa terlempar di medan perang. Apalagi pelatih selalu menakut nakuti bakalan dimakan anakonda atau macan kumbang lapar yang setiap saat dapat memangsa kita.
Tapi sayang, di Situ Lembang hujan deras. Jadinya suhu disana makin dingin dan cukup membuat beberapa sobat menggigil dan asma. Ditambah pakaian basah dan tenda merembes, veldbed yang kami tiduri pun ikut basah. Semoga saja semuanya baik-baik saja. Untunglah aku sudah pendinginan di Ranukumbolo,hehe. Ranukumbolo mah lebih ekstrim dinginnya :D
Caraka malam
Pegang ular, hiiy
Survival, cari logistik
Malamnya kami langsung caraka malam, acara yang kulalui dengan penuh semangat. Berjalan dalam keadaan gelap gulita. Cukup banyak kejutan selama perjalanan. Hawa yang dingin menjadi panas karena tegang, hehe. Gerimis dan kunang-kunang pun ikut meramaiakan. Pakaian penuh dengan lumpur yang baunya busuk -_- badan aduhai gatal semua. Langsung tidur, nggak usah mandi. Karena habis kotor-kotoran terus mandi itu terlalu mainstream. Ada pula materi survival dan pelajaran menangkap ular. Aku coba maju sebagai perwakilan dari putri, lumayan lah foto gratis sama ular unyu :3 hehe. Setelah ditangkap, lalu dijadikan sate dan dimakan bebarengan. Rasanya seperti sate kambing, Cuma agak anyir.
Dan, dua hari kemudian usailah acara kesemaptaan. Pada hari akhir ada acara ramah-tamah ditambah dangdut koplo. Entah kenapa aku menangis meninggalkan tempat ini, entahlah...apa karena aku udah akrab dengan semua pelatih? Ataukah rindu dengan ompreng? Barak? Tidak ada yang tahu.
Yang jelas, aku bangga dengan pelatihku. Bangga sekali. Dan yang terpenting aku berhasil melewati tantangan selama sepuluh hari ! Yeeei!  Berhasil, Berhasil, Berhasil, Oyeeei ! Aku berhasil melewati kegiatan yang merubah skin tone-ku !

Beberapa foto angkatan 37 :
Penutupan
Potong Tumpeng
Snapling
PBB
Kena hukuman sekaligus kejutan
Titian tali dua, sambil teriak PLN-PLN !
Rayapan tali satu
Persiapan makan ular


Baris Sambil nyanyi keraas
Tiaraaap, eaaa
Gulung gulung di lumpur bau kubangan
Main di hutan
Basah-basahan dengan Air Suci, haha
Psikologi Terapan
Rolling di bebatuan, aduuh sakiit....tidak ada toleransi cewek cowok

Beberapa lagu korsa kenangan selama di Batujajar :

1. Batujajar Tak Akan Kulupa
Batujajar tak akan kulupa,
Tempat kita berlatih bersama,
Siang malam selalu ditempa
Tuk menjadi karyawan PLN (2x)
Itulah harapan bangsa dan negara menjadi karyawan PLN !

2. Derap Langkah
Derap langkah nan gagah perkasa
Seirama dan saitu suara,
Sambil Bernyanyi lagu hura-hura
Itulah langkah karyawan PLN
Ayun kakimu kiri dan kanan,
Atur langkah Jaga kerapian,
Jangan sampai merusan barisan
Banjar dan safnya harus diluruskan

3. Long March
Long March, adalah jalan jauh,
Yang harus, kita tempuh dengan semangat satria
Naik gunung, turun gunung, tiada mengenal lelah
Kaki bengkak sepatu dipundak, kerongkongan haus dahaga
perut lapar badan gemetar, tetapi tetap kutahan
Siap tunggu perintah.

4. OtoBemo
Otobemo otobemo
Beroda tiga
Tempat berhenti, ditengah-tengah kota
Panggil nona panggil nona
Naik kereta
Nona bilang, tidak punya uang, jalan kaki saja

5. It's a long way
It's a long way, siswa PLN
It's a long way to go
It's a long way, siswa PLN
Goodbye my lovely one!
It's a long long way siswa PLN
It's a long way, to go.

(Nangis nyanyinya, lagu ini menggambarkan perjalanan panjang yang harus ditempuh oleh para tentara, dan rela meninggalkan keluarganya. Seperti calon pegawai PLN)

You Might Also Like

4 comments

Subscribe