A Tribute : Segenggam kuaci, Secangkir Kopi di Tepian Pantai

Friday, April 12, 2013


Malam itu entah kenapa kita melarikan diri di tepian pantai dengan menggenggam kurang lebih satu ons kuaci bunga matahari di dalam kantong plastik.
Pantai di kota, walau keruh, namun di bawah naungan bintang musim panas yang membuat segalanya terasa amat indah.
Kau ingat? saat itu bulan perlahan merambat naik, malam semakin larut, dan entah mengapa rasa kantuk itu tidak datang. Keajaiban apakah itu, apakah karena kami terlalu asyik bercerita hingga kantuk itu enggan datang?
Kau ingat? Secangkir kopi susu panas menemani perbincangan kita saat itu, mengusir dinginnya bayu malam dan menemani kuaci yang makin lama makin asyik dikunyah.
Kau ingat? Kau pernah mengatakan kuaci itu makanan kesukaanmu, walau rahangmu sampai membiru tapi kamu tetap makan kuaci.
Malam itu, rahang kami memang sedikit bengkak, tapi kita tetap bisa tertawa lepas di tepian pantai itu; sembari berusaha mencari topik-topik bahasan yang lain agar waktu kebersamaan itu kian panjang menemani sang bulan.
Secangkir kopi sudah habis, tapi kuaci itu belum juga habis.
Segenggam kuaci, secangkir kopi di tepian pantai ibukota...
Itu dulu..hanya secuplik dari sekian banyak cerita lamaku.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe