FluMe... (sebuah cerpen)

Sunday, March 25, 2012

“Resital dua minggu lagi.”

Gadis itu menekuri jejeran angka pada kalender bergambar ikan koi dengan jemari lentiknya. Dua minggu lagi, itu waktu yang sangat cepat untuk sebuah resital perdananya.

“Kamu itu pintar, Res. Dimana-mana selalu dipuji. Kamu sanggup melakukan longnote selama hampir satu menit. Kalau aku? Parah banget.” Dewina menegur Resita, teman baiknya yang sedang terdiam selama hampir lima menit di depan kalender. “Resital itu mudah, yang penting jangan gugup, itu kuncinya. Apalagi kamu itu, keturunan pemain woodwind sepenuhnya.” Tambahnya sambil mengurut dahinya lembut.

Yang terdiam didepan kalender itu bernama Resita, flutist terkenal di Institut musik tempat ia mendalami flute nya. Keluarganya memang seluruhnya pemain woodwind, baik soloist maupun sebagai pemain orkestra. Ayahnya oboist, ibunya pemain basson, faggot juga. Tetapi kakeknya pecinta brass wind instrument, pemain soprano saxophone.

Tentu saja, dengan latar belakang keluarga pemain woodwind, Resita tidak perlu ragu lagi. Seluruh kampus telah mengakui tiupan flutenya sebagai yang terbaik. Bakatnya yang sungguh luar biasa dipastikan dapat membungkam seluruh penonton yang akan menontonnya.

Tetapi ia hanya takut akan satu kelebihan yang tidak pernah diinginkannya...

“Res? Kok diem ?” tegur Dewina. “Oh ya, bore oil mu kemarin terbawa, jadi...”

“Dew, emm...” Resita menegur Dewina dengan suara yang sedikit parau dan terdengar ragu, lalu ia menggigit bibir ranumnya.

“Kenapa?”

“Kamu yakin aku bisa? Latar belakang keluarga woodwind tidak menjamin kesuksesan lho.”

“Kenapa tidak?”

###

Resital Flute ke-14 telah dibuka.

“Aku emang nggak pernah menginginkan memiliki kelebihan ini. Tapi kenapa aku harus punya? Aku nggak pernah ingin tahu perasaan orang lain.” Resita menggumam gusar sambil mengetuk-ngetuk footjoint flute nya. Flute yang ia genggam saat ini masih baru, cocok untuk tingkat expert seperti Resita.

Sekaligus menjadi Flute pemberian mendiang ibunya yang terakhir setelah kanker payudara ibunya bermetastase ke hati. Ibunya tidak dapat bertahan dengan keadaan seperti itu, dan akhirnya meninggal.

“Tidak ada orang yang mengerti kelebihanku ini. Sejak kematian ibu dua bulan yang lalu, aku sudah merasakan keanehan dengan telingaku. Nggak, ini bukan indera keenam. Ini adalah indera yang sangat menyebalkan, menyebalkan sekali ! nggak masuk akal sama sekali ! nggak mungkin ada orang yang percaya akan kelebihanku ini...”

Ia menggumam sendiri, tangannya berkeringat dingin. Flutenya telah berkali-kali ia usap dengan selendang yang melilit lehernya. Permainan flute yang baru saja ia dengarkan sangat menyebalkan, melodinya terdengar sangat terpaksa untuk dimainkan.

“Kamu setelah Rangga, Res, jangan tegang begitu dong. Nanti kilau flutemu berkurang. Sudah kamu kasih bore oil kan?” kata Dewina sambil merangkul sahabatnya. Resita terkejut setengah mati dan ia hanya merespon dengan anggukan.

“Kangen sama mamamu?” tebak Dewina asal. “Tapi, dengan flute hadiah ulang tahun mamamu, pasti kamu nggak merasa kesepian lagi kan? Kamu akan selalu merasa mamamu disampingmu.”

“Makasih Dew, aku emang selalu ngerasa mama disampingku. Mama selalu menantikan resital pertamaku ini. Dan...hari ini genap dua bulan mama meninggalkanku. Ak..aku...”

Air mata itu menetes langsung diatas flute Resita. Dewina kelabakan dan langsung mengelap flute Resita.

“Res! Jangan nangis dong ! air mata itu dapat mengkorosi flute tahu! Sayang kan, flutemu mahal, jadi hilang kilaunya gara-gara tangisan. Kalau kamu menangis, mamamu pasti nggak tenang dialam sana. Tunjukkan permainan terbaikmu, aku yakin mamamu pasti mendengarkan dari sana.”

“Dew...”

“Jangan sampai mentalmu jatuh, Res. Oke, sebentar lagi aku tampil, kamu juga harus bersiap-siap.”

Dewina menautkan kelingkingya dengan kelingking Resita.

###

“Ini...bukan permainan Dewina! Dia bukan Dewina!”

Mata gadis itu menatap Dewina yang sedang menunjukkan aksinya dengan pandangan kosong, suram dan tampak sangat ketakutan. Telinganya bergerak-gerak mendengar melodi yang dimainkannya sangat dingin dan terasa sangat gelap dan mengurungnya di sebuah gua yang sangat dingin.

“Dewina...kamu..kenapa kamu bermain seperti ini? Kenapa kamu menyimpan dendam yang sangat dalam? Kamu dendam sama siapa? Energi amarahmu besar sekali. Kenapa? Kenapa kamu...”

Menginjak lagu kedua. Meditation from Thaiss.

“Hentikan Dewina! Hentikan...aku sudah nggak kuat lagi! Kamu seakan ingin membalaskan kesumatmu pada semua orang di balairung ini. Hentikaaan...!!!”

Permainan Dewina selesai, ia segera menjauh untuk tidak melihat wajah Dewina lagi, ia sudah tidak kuat. Berlari...berlari..dan akhirnya...

“Resita? Ini sudah giliranmu, kamu mau kemana?”

Dewina menegurnya dengan pandangan heran.

Muka Resita pucat sekali melihat rupa dewi kegelapan sudah berada didepannya sekarang.

“Dewina menyapaku...”

Resita terhuyung mundur, lalu segera berlari menjauhinya.

“Benar....ternyata benar! Aku nggak pernah menginginkan kelebihan ini! Nggak akan pernah!”

“Dewina ternyata kejam sekali, dia seorang pendendam!”

“Aku nggak mau terpengaruh dengan permainannya setelah ini.”

Ribuan kalimat lainnya berkecamuk dalam pikirannya, dan mengukung rapat pikirannya untuk Dewina.

###

“Resita? Kamu kenapa? Kamu tiba-tiba menjauh dariku?” Dewina menegurnya pelan. “Permainanmu lembut sekali Res, lebih baik daripada biasanya. Kamu bermain sesuai score tanpa miss sedikitpun.”

Resita diam.

“Res? Apa kamu sakit?”

“O..oh..aku tadi..hanya gu....gup tad...i...tadi..kala...u ak..ku gug..up memang beg..it..u...” jawabnya terbata-bata dengan bibir gemetar dan mukanya pucat.

“Sampai sekarang masih gugup?” goda Dewina. Tetapi sahabatnya hanya menundukkan wajahnya dalam-dalam, dan menitikkan air mata.

Telinga Resita kembali bergerak-gerak mendengar melodi yang menggetarkan membran timpaninya. Melodi penuh cinta, lebih tepatnya melodi yang dimainkan oleh orang yang kasmaran. Resita merasakan dirinya berada di hamparan padang bunga aster yang luas dengan angin musim panas yang membelai wajahnya lembut.

“Siapa gerangan yang jatuh cinta?”

Ia lalu mendongakkan kepalanya, menatap seorang cowok dengan flutenya.

“Gio, Gio, kamu...sedang jatuh cinta?” gumam Resita nyaris tak terdengar. “Kamu hebat sekali, dapat menuangkan perasaan jatuh cintamu dengan flutemu...”

###

“Aku belum menemukan jawabannya lho,” Dewina bertanya dengan tegas pada Resita seusai Resital selesai. “Hari ini kamu aneh sekali, terlebih setelah mendengarkan resitalku. Kamu kenapa sih?”

Bibir Resita terasa kaku menjawabnya. Matanya tidak kuasa menatap Dewina.

“Res! Resita! Jawab!” desaknya.

Tak ayal, ia menjawab juga. “Kamu pendendam, baru kali ini aku mendengarkan permainanmu yang penuh amarah, dendam, dan kegelapan.”

Raut muka Dewina berubah sedikit panik, “Aku hanya nggak enak badan!”

“Bohong, apa bisa orang yang sedang tidak enak badan menginterogasi sampai seperti ini? Orang yang lagi sakit itu, permainannya tidak seperti tadi, dinamikanya lebih lembut dan tidak stabil, paham?!”

Sepasang telinga mendengarkan perdebatan seru itu.

“Dan juga, aku kecewa sama kamu Dew,”

Wajah Dewina memerah dan akhirnya ia menjadi berang, “Oke!! Akhirnya kamu tahu dengan sendirinya siapa aku, bukan? Resita, aku ini memang pendendam, DENDAM SAMA KAMU!!!”

Resita berdiri dan menepis tangan Dewina yang menunjuknya. “Ternyata benar...”

“Selama ini, aku selalu dibandingin sama kamu, Res. Semua orang selalu menomorsatukan permainan flutemu dibandingkan aku. Aku sangat marah,dan saat resital ini, aku memang menumpahkan emosiku pada flute. AKU MARAH, aku ngerasa semuanya tidak adil padaku ! aku yang sudah berusaha keras, tetapi tetap kamu yang dipuja! Aku kecewa!! Maka, saat resital, aku hanya berusaha tampil yang terbaik karena ingin menjadi seperti dirimu...”

Emosi Dewina akhirnya tertumpah, suaranya menggema. Keras sekali, air matanya berderai. Resita hanya menatap sahabatnya kalut, ingin sekali ia menggampar mulut didepannya yang telah menjelek-jelekkan dirinya.

“Kamu emang nggak pantas sahabatan sama aku, Res,”

Dewina mengatakan kalimat itu dengan dinamika fortissimo. Lalu meninggalkan Resita tanpa memedulikan raut mukanya yang sedang terkejut atas pernyataan sahabatnya.

Resita tersedu sedan, ”Ternyata benar, aku memiliki kelebihan mengetahui perasaan orang melalui musik yang dimainkannya. Dan aku memang tidak pernah menginginkan kelebihan yang mengerikan ini. Lihatlah, persahabatanku hancur karena kelebihan sialan ini!”

Resita mengusap air matanya. Pikirannya terus mengutuk kelebihannya. Akan tetapi semua itu berhenti setelah pemilik sepasang telinga yang menguping dibalik dinding itu menegurnya.

“Kelebihanmu itu menyenangkan, Res.”

Resita terkejut setengah mati, “Gio? Sedang apa kamu disini? Kamu dengar semuanya?”

“Tentu saja, kelebihanmu itu sangat menarik lho,” sahutnya enteng, membuat Resita semakin ingin melemparnya keluar.

“Aku benci kelebihan itu! Kelebihan itu membuat persahabatanku dengan Dewina hancur!”

“Oh? Itu karena kamu teledor.”

Tampaknya Resita semakin kesal, lalu mendorong Gio menjauh darinya dengan kasar. “Kamu nggak usah ungkit-ungkit kelebihanku lagi, pergi!!”

“Jadi kamu tahu bagaimana perasaanku setelah resital tadi, Res?” Gio merespon tanpa emosi. “Tahu kan?”

Resita langsung melepas cekalannya, “Tentu saja, itu...perasaan cinta.”

Pipinya bersemu merah jambu, telinganya bergerak-gerak seakan-akan mendengar melodi yang dimainkannya tadi. “Sungguh, melodi cinta yang sangat indah, Gio, aku jatuh hati dengan permainanmu.”

“Hmm...kamu tahu perasaanku ini untuk siapa?”

Resita menggeleng lemah, telinganya masih asyik mendengarkan melodi itu dalam angan-angannya.

“Nggak tahu ya?”

Ia kembali menggeleng.

“Melodi itu untuk....kamu.”

###

Memang perasaan seseorang itu dapat dibaca dari permainan musiknya...

###



Lumajang, 25 Maret 2012 - 13.30 WIB

Mengisi liburan dengan berandai-andai sebuah FLUTE




(Huaa...akhirnya baru kali ini aku dapat memposting cerpenku dalam blog ini :D Dibaca ya, dan mohon kritik dan sarannya. Semoga kalian suka <3 . Jangan asal tempel salin. Kalau mau tempel salin (copas) ijin dulu di une.physics@yahoo.com)


You Might Also Like

0 comments

Subscribe