#2 Maratua : Kumohon Tenggorokan Jangan Menggatal Dulu


Setelah semalam Anis mengajakku ke pusat keramaian di Pulau Maratua, nongkrong di Soluna CafĂ©, melihat acara dan stand kerajinan dan makanan khas dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Berau, (salah satunya ada kudapan khas Derawan kepulauan, yaitu ketan bulu babi alias tehe tehe yang creamy enak banget, kata kak Dian  konon rasa sedapnya berasal dari lemak bulu babi), pagi pertamaku ini kami berencana ke Kakaban untuk nengokin stingless jellyfish dan berencana foto dengan lebih estetik. Tapi sebelumnya, pagi-pagi jam 6.30 aku segera bersiap untuk menjelajah Maratua dengan motor PCX rentalan. 

Di Maratua kalau nggak sewa motor, susah untuk berkeliling pulaunya yang sejauh 40 km ini. Kemarin Kak Dian menyarankan, kalau spot sunrise terbaik di Maratua bisa dinikmati dari perkampungan Bohe Silian, 15 menit lah motoran dari kampung Payung-Payung, tempatku menginap. Sedangkan sunset terbaik dapat dinikmati dari kampung Payung-Payung saat senja turun. Karena kesiangan, maka matahari sudah sedikit naik, namun beruntungnya langit masih cerah dan citra pagi itu masih elok untuk diabadikan dengan kamera ponsel seadanya.
Pulau Maratua, sebagian jalannya sudah beraspal mulus, dan pulau ini sudah terlistriki dengan pembangkit Listrik Tenaga Diesel dari PLN. Sebenarnya asyik untuk lari pagi disini, karena selain aman, juga jalannya mulus dan lurus. Tapi, ehm, rasa gatal apa yang tiba-tiba merayapi tenggorokanku ini?
Kucoba menelan ludah berkali-kali, lalu mengusap leherku dengan lembut. Sepertinya aku mau flu.
Aaah, mampus. Moodku yang awalnya jenaka menjadi menguap.
Setengah mati berusaha kuabaikan, namun rasa itu tak kunjung hilang. Sudah kuobati dengan sebungkus nasi kuning lauk ikan tuna merah, tapi malah sedikit menggila karena minyaknya yang menempel di tenggorokanku.
Jangan flu dulu, jangan flu dulu. Aku masih mau nyelem, biaya ke Maratua mahal ya Allah, apalagi nggak ada sponsor.
Kendati tenggorokan mulai terasa gatal, namun hidungku masih lega dan belum berlendir. Tampaknya para virus masih tahap beranak pinak dan menyusun strategi untuk meruntuhkan mental imunku. Tak apa, setidaknya hari ini masih aman.
“Hari ini cerah sekali, laut tenang maksimal, Allah dan Suami merestui perjalanan hari ini,” aku menenangkan diri sambil menatap perairan yang jernih dan menyilaukan. Trip Kakaban hari ini tetap terlaksana, dengan speed, menuju Kakaban hanya perlu 40 menit.
“Kita ke Kakaban yang lama aja ya. Sebenarnya ada yang baru, tapi pasti lebih rame. Kita nyari keestetikan selfie sama ubur-ubur aja kan, maka kita cari yang sepi.” Anis menjelaskan, sembari bersiap-siap.


“Iya, kali ini pokoknya harus bisa sama ubur-ubur. 9 tahun lalu sudah nggak punya kamera underwater, nggak bisa renang pula. Otomatis nggak ada dokumentasi sama sekali.”
Mereka tertawa. Lalu melanjutkan percakapannya dengan Bahasa asli mereka, Bahasa Bajau.
Dermaga Kakaban lama sudah tak terawat sama sekali. Tiada pengunjung yang datang kesana. Jembatan dan tangga sudah koyak, sesekali kami susah payah dan ekstra waspada melewatinya. Tak ramah bagi pengunjung yang membawa bocil ataupun orang tua.
“Kenapa kok gak terawat lagi kak?” selidikku pada Anis dan Kak Dian.
“Biasa, sengketa lahan.”
Wah, tempat wisata pulau tak berpenghuni seperti ini juga ada drama sengketa lahan juga ya?
Aku menatap tempat yang kukunjungi 9 tahun lalu. Alamnya tak banyak berubah, pulau atol dengan cekungan ditengah dan suara deburan ombak.  hanya infrastruktur, dan pengunjungnya. Hari itu sepi sekali, hanya kami bertiga, cuitan burung dan kumpulan ubur-ubur. Awalnya aku masuk dengan percaya diri, dengan pemberat 2 kg di pinggangku. Alhasil badan tiba-tiba tenggelam, aku panik, berusaha menggapai-gapai permukaan dan ditolong ke pinggir oleh Anis dan Kak Dian, lalu aku memutuskan untuk mengapung saja tanpa pemberat, jadinya susah banget mau foto melayang di tengah air, apalagi bouyancyku adalah positif.
Kami berada di danau ubur-ubur hingga Tengah hari, lalu lanjut ke spot freediving kelapa dua, yang merupakan coral indah membentuk dinding. Mengapa dinamakan Kelapa Dua? Karena ada dua pohon kelapa di dekat kami freediving.
“Kemarin yang ada scuba diver meninggal dimana?” tanyaku iseng.
“Ya disini, tuh! Disana, yang ada orang scuba,” Anis menunjuk Lokasi sekitar 50 meter dari tempat kami turun. Aku menelan ludah, pertama turun, arus laut membawaku menjauh. Wih, pengalaman pertama ini ketemu arus. Aku sedikit kagok, ada rasa sedikit panik.
“Udahlah, namanya juga laut ya pasti ada arusnya. Ini masih pelan, santai aja. Apalagi nanti di Barakuda, makin parah arusnya,”
Aku nyengir. Bener saja, kayak gini aja keder, bagaimana kalau freedive ke spot Barakuda? Ckckck.
“Mbak liat kan itu sea fan, turun kebawah ya, nanti dadah-dadah, kami foto.” Anis memberiku instruksi. 
Namun kepalang panik, mask ku malah berembun. Makin panik, akhirnya nggak bisa menyelam dalam. Payah lah, sedih juga sebenarnya hiks. Kemana skill bisa nyelam 13 meterku yang dulu itu? 
“Mbak nggak pede kah, atau biasanya ngolam aja nggak pernah kelaut?”
Aku mengangguk. Mafhum.
“Di Bontang kan banyak laut, sering-sering Latihan open water aja mbak. Nanti biar fotonya bisa estetik hehe. Lama-lama juga terbiasa.”
Aku mengangguk lagi, kali ini dengan rasa kecewa mendalam.
“Sudah jam segini, yuk ke turtle point, keburu pasang, penyunya malah kabur ke tengah laut lagi.” Anis memberi instruksi. Yah setidaknya ada harapan terakhir di turtle point untuk bisa berfoto dengan penyu unyu, dan mensyukuri bahwa pak suami masih memberiku kesempatan untuk bisa memulai petualangan liarku sebatang kara.
Setibanya di turtle point, kecipak sirip penyu sudah menyapaku. Mataku Kembali berbinar menatap penyu beraneka ukuran di turtle traffic siang itu. Aktifitas penyu pun macam-macam, ada yang bobo siang, kejar kejaran, makan rumput laut, dan (sepertinya) menggoda temannya. Sama seperti manusia biasa.
Kak Dian melambaikan tangannya, menginstruksikan untuk mendekat dan menyelam kebawah, ada penyu mager katanya.
Dan…wow! Hasil fotonya keren banget! Air laut saat itu sangat pristine bak kristal dan visibilitasnya jelas. Di turtle point, kalian dapat bertemu dan ikut arisan atau pengajian bersama penyu mulai di kedalaman 3 meter saja. Asyik kan!
Di turtle point ini gairahku tumbuh kembali, walau lautnya sama-sama berarus, tapi bertemu dan mengikuti arisan Bersama penyu unyu membuat semangatku naik lagi.

Unesia Drajadispa

No comments: