#1 Maratua : Perjalanan Yang Diizinkan Suami dan Alam

Maratua adalah Impian, sejak aku mengenal Derawan.

Dulu, aku masih cupu menjelajah kepulauan di Indonesia. Belum bisa berenang, masih pakai pelampung oren yang terkadang kainnya sudah lapuk saat menambang di laut. Kesana kemari masih pakai trip harian sharing cost yang waktunya terbatas. Jadi kapan aku bisa menjelajah secara maksimal di satu destinasi?

Dan…renjana tersebut kian menggebu saat aku udah belajar freedive dan berhasil mendapatkan license-nya Agustus lalu. Ehm, waktunya main sama penyu dan makhluk laut lucu lainnya di perairan Maratua!

Trip ini aku jadwalkan dadakan dan senyap, diam-diam yang penting jadi di bulan November. Setiap hari tak henti-hentinya aku memeriksa ramalan cuaca di ponsel, cuacanya kira-kira seperti apa saat aku disana? Jangan sampai cuaca menghancurkan moodku untuk bersenang senang 😑

Aku menghubungi salah seorang warga lokal yang  kebetulan bisa guiding dan licensed freediving juga, Namanya Anis. Alasan lain kenapa aku menghubungi dia untuk akomodasi ke Maratua Adalah karena dia Perempuan, sama juga ibu-ibu beranak satu dan punya kedai yang tentunya dengan harapan bisa menyelamatkan perutku yang sering lapar ini haha. Dan setelah aku menghubunginya, setiap pekan rajin tanyakan terkait kondisi cuaca di Maratua bagaimana, yang kadang berangin kencang, hujan deras, dan memaksaku untuk maju mundur apakah renjana ini bisa ditunaikan atau batal.

Bagi pembaca setia blog ini tahu kan sifatku bagaimana? Pantang menyerah apapun yang terjadi, terutama yang menyangkut acara wisata-wisata seperti ini. Karena kalau batal, susah cari niat dan kesempatan di lain waktu, dengan kata lain batal selamanya.

“Kak, setelah kupikir-pikir, aku tetap gas aja ke Maratua. Toh cuaca di Kaltim saat ini juga gak nentu. Tak akan bisa dapat cuaca yang bagus kalo nggak rejeki,” ujarku saat menghubungi Anis lewat pesan singkat.

“Wah hoke-okee jadinya kapan kesini?”

“Jumat, via pesawat.”

Tiket penerbangan ke Maratua  dan sebaliknya juga sudah aku pesan via whatsapp ke admin maskapai perintis dengan pesawat Cessna Caravan yang melayani perjalanan ini. Sedikit info, saat ini penerbangan perintis dari Samarinda (SRI) ke Maratua (RTU) dilayani oleh penerbangan perintis Smart Aviation dengan tarif antara 780,000 rupiah – 800,000 rupiah sekali perjalanan. Selain Maratua, rute perintis dari Samarinda yang dilayani Adalah Long Apung, Miau Baru Pemesanan tidak bisa jauh-jauh hari seperti maskapai komersial lainnya untuk menghindari praktik calo, jadi pemesanan sekitar seminggu sebelum keberangkatan saja. Jadwal keberangkatan seminggu hanya 3x, dan terkadang dilakukan penyesuaian hari di pekan-pekan setelahnya.

Selain Anis, Po Norma (temenku dari Samarinda yang sering ke Maratua, aku kenal dia pas trip ke Balagbalagan) juga termasuk salah satu narasumber yang memberiku banyak info, dari akses wisata, transportasi, hingga info-info penting lainnya. Dan mantapnya dia nggak pelit info, semua dia jelasin sejelas-jelasnya. Aku berhutang padamu pooo…

Penerbangan dari Samarinda pukul 07.30 pagi, tepat waktu. Durasi penerbangan 1 jam 15 menit, melewati atas rumahku, pertambangan di Sangatta, perbukitan karst, hingga laut lepas. Kursi penumpang hanya muat sekitar 10 orang, dan muatan bagasi penumpang terbatas 10 kg per masing-masing penumpang. Rasanya bagaimana? Goyang-goyang nggak? Ya nggak lah, penumpang bisa mengamati aktivitas pilot secara langsung dan memang berisik, serta terbangnya cukup rendah, jadi kita bisa menikmati pemandangan yang cukup epic, asalkan pintar-pintar milih tempat duduk saja.

Setelah mendarat di Bandara Maratua di kampung Payung-Payung dengan ikon penyunya yang lucu, Anis menjemputku, dan langsung menyusun itinerary dadakan karena aku memang private trip. Pas hari pertama datang, memang sisa-sisa angin kencang masih terasa, jadi laut pun masih terlihat keruh.

“Aku nggak bisa guide dulu hari ini, karena masih flu dan lagi halangan. Mudah-mudahan besok bisa ikut ya.”

“Tapi angin kencang gini, besok gimana ya?”

“Besok perkiraan reda. Kita main di gua dulu saja, ada gua Gumantung dan Halo Tabung. Sama-sama cantiknya,”

“Sama siapa?”

“Sama Kak Dian dulu ya, dia wawasannya tentang Maratua cukup oke, bisa tanya apapun tentang Maratua ke dia. Skill freedive juga lumayan. Eh kamu nginap disini, pas didepan penginapanmu itu turtle point, kalau siang air surut, kita bisa jalan kaki ketengah dan nyelam, kalo siang banyak penyu main disana, nanti kita coba kesana.”

Mataku berbinar senang. Penyu unyu !

Dan…hari itu kami ke Gua Gumantung dahulu, jaraknya lumayan jauh dari kampung Payung-Payung tempatku menginap. Sepanjang jalan, Kak Dian menceritakan beberapa kisah tentang Maratua dan menunjukkanku tempat dan teluk-teluk di Maratua, yang nggak bakal kalian dapatkan kalau open trip biasa. Dia juga menjelaskan kenapa dinamai kampung Payung-Payung, yang ternyata ada batu karang pinggir pantai yang berbentuk seperti payung.

Gua Gumantung, yang ternyata Adalah sebuah ceruk ditengah-tengah karst, diisi oleh air yang cukup jernih, dan ditemani cicitan kelelawar gua. Jika sedang beruntung, kitab isa melihat tetesan air dari dinding gua. Treking menuju Gumantung dari pintu masuk sekitar 300 meter, tapi kondisi jalan sudah bagus, walaupun naik turun.

“Ini ikan asli sini kak?” tanyaku sembari menunjuk ikan berwarna jingga dan belang-belang.

“Bukan, ini habitatnya dilaut, sama orang local diambil dan ditaruh disini. Kasihan kan?”

“Waduh kejam itu kak,” ketusku sambil teringat film Finding Nemo. Duh, ada-ada saja ide kejam manusia untuk membuat suatu tempat jadi lebih menarik.

“Kak, ini airnya asin ya, kalau beruntung dan menyelam agak dalam sedikit bisa lihat kabut lumpur didasar,”

Namun aku nggak melakukannya. Kayaknya masih panik karena keseringan Latihan di kolam, dan sekarang bertemu dengan air gelap bak tak berdasar. Jadi aku hanya menyelam sebisanya sambil bergaya di batang kayu yang rebah. Ditambah lagi airnya dingin, kian gemelutukan dan nggak tenang aku dibuatnya.

“Maaf kak, aku belum biasa. Airnya dingin banget,”

“Iya aman. Tenang aja kak, nggak usah buru-buru.”

Selepas dari Gumantung, Kak Dian menawariku mencoba es campur terenak di Maratua di kedai Victorious. Kedainya langsung menghadap di Teluk di Pulau Maratua, namun saat itu laut sedang surut. Kak Dian juga membawakanku kweni, sejenis mangga local yang sedikit beserabut, dan aromanya cukup menyengat. Nah kan, memang guide terbaik Adalah warga local, banyak bonusnya, termasuk kosakata Bahasa local mereka, Bahasa bajau.

“Bajau kami bahasanya serumpun dengan bajau di Filipina. Tapi beda dengan suku bajau yang di Sulawesi Tengah. Dulu, pas angin kencang, sempat ada nelayan dari Filipina terdampar di Maratua.” Kisahnya.

Puas menikmati es campur, kami menuju gua halo tabung yang dulunya Bernama gua haji mangku. Jujur kalau bagiku, gua halo Tabung lebih menarik hati, karena airnya lebih jernih hingga  tembus kedasar, sayangnya nggak sempat dapat Cahaya Ilahi karena sudah kesorean ke Halo Tabungnya. Spot wajib untuk berfoto di Halo Tabung adalah pintu masuknya, dan jika punya nyali lebih bisa lompat dari atas tebingnya., kalau saya sih mending nyelam hehe.

Gua Halo Tabung, dindingnya juga merupakan batuan kapur (limestone) yang terisi oleh air laut, dan level airnya juga dipengaruhi pasang surut air laut. Airnya adeem dan super jernih! 

Tapi jujur, aku freediving disini lebih enjoy dan lumayan bisa menikmati banyak spot yang terdapat disana, seperti terowongan dengan dua level kedalaman, dan batuan karst yang menawan. Walau airnya lebih dingin, tapi entahah, nafasku terasa lebih Panjang disini. Lain kali aku pasti bawa ekor mermaidku kesini sembari mengejar Cahaya ilahi😊

Unesia Drajadispa

No comments: