One More Night at Samarinda

Monday, October 13, 2014



Empat Oktober Dua Ribu Empat Belas. Sabtu hadir di satu malam yang indah, dimana lampu-lampu ibukota temaram dan kerlip bintang di langit yang cerah menghiasi detik ini. Kota ini aku kunjungi dimana sepi dan bosan selalu melanda di akhir pekan di tempatku bekerja mencari nafkah, dan kota ini, nampaknya cocok menjadi pelarian.
Kerlip lampu yang indah, membuatku sempat membayangkan dapat memotretnya dari bukit atau tempat tertinggi disana. Ah, tapi itinerary ku tak mengatakan demikian, tiada jadwal memotret dari ketinggian, dan aku harus patuh dengan itinerary ku agar semuanya tak berantakan sia-sia.
Tapi malam itu beda, dasar diriku emang bandel, kenapa memaksakan diriku menemui seorang cowok nyebelin yang kebetulan pulang kampung ke Samarinda. Malam itu aku dan seorang kawan berbuka puasa di salah satu pusat perbelanjaan Samarinda (SCP), dan sempat terjadi miskomunikasi lewat WhatsApp.

Aku : Mas jadi makan ga?

Cowok nyebelin (sebut saja Fajar, nama sebenarnya) : Kalian duluan aja, aku nyusul

Entah diriku yang telmi atau si Fajar yang nggak jelas, kata ‘duluan’ membuatku berpikir bahwa kami bisa pergi dari tempat ini secepatnya, eh tak tahunya dia malah nyusul ke SCP sedangkan aku dan temen udah bubar duluan.

Fajar : Dimana kau, masih di SCP kah?

Aku : Udah bubar

Fajar : -_- *plus emot tinju

Aku : Katanya suruh duluan

Fajar : Baru touchdown

Deg ! Perasaan bersalah melandaku. Wadow, dia pasti kesel banget, akunya udah bubar dia baru datang. Jangan-jangan maksud duluan itu aku makan duluan, trus nunggu di SCP gitu. Dasar cowok nyebelin, kenapa nggak bilang kalau mau ke SCP dari tadi !

Aku : Ayo jalan-jalan mas

Fajar : Lagi cari buku

Aku : Anterin cari obyek foto dong, temenku nih Cuma paham sekitar ilir aja

Fajar : Dasar emang kau ga jelas

Aku : Ampun *emotnangis

Fajar : mau kemana emang

Aku : kemana aja

Fajar : Pingin ku getok pala kau *gambarpalu . Tepian Noh

Aku : ampun mas, ntar aja kalo ketemu getok sepuasmu. Ayo ketemuan dimana deh biar bisa getok

Sikapnya yang nyebelin makin membuatku penasaran dan pengen ketemu dengan makhluk yang satu ini. Seperti apa sih dia !

Fajar : Udah malam, kasihan temanmu

Dan setelah melalui percakapan panjang dan ruwet, akhirnya kami sepakat untuk ketemuan di depan bank Kaltim. Karena temenku yang antar juga mbulet, makanya agak terlambat sedikit, dan pasti Fajar nunggu lama disana, makin gawatlah, dia pasti getok kepalaku habis-habisan.
Setelah sampai di spot tempat kita janjian, Fajar langsung nganterin ke tepian Sungai Mahakam untuk mencari spot yang bagus. Sayang karena ramai, aku minta bertolak ke tempat lain. Jembatan Mahakam menjadi pilihan, dimana aku bisa memotret pesona Mahakam malam hari. Benar-benar pemandangan langka bagi gadis sepertiku mengunjungi Sungai terbesar di Kaltim pada malam hari, dengan mengendarai sepeda motor. Kukeluarkan kamera dan segera mengambil gambar, susah sekali mengambil gambar dilokasi ini, getaran-getaran dari kendaraan yang melintasi jembatan membuat long exposureku kacau, hancur.
Mahakam at Night *ngambil gambarnya sambil tahan angin
“Bagaimana? Bisa?” tanya Fajar. Aku melihat LCD kameraku, blur.
“Susah, goyang terus.” Jawabku sambil menunduk. Iya, baru aku sadari, aku tak berani menatap mukanya saat berbicara.  Jujur ya, Fajar yang berdiri didepanku keren banget, beda sekali dengan foto di media social yang diunggahnya. Tinggi, putih, kulitnya bersih dan semi plontos. Keren. Wakakakak.

“Eh mas, getok nih kepalaku, katanya mau getok,” Tantangku sambil menyodorkan kepalaku.
“Nanti…pasti ada waktu yang pas, “ jawabnya misterius. “Aku orangnya mood-mood an.”
“Kalau getok aku pakai helm ya,” Ujarku malu-malu. “Eh mas, aku besok nggak shalat ID, kayaknya aku barusan dapet,” Kataku dengan lugas, pede.
Fajar Cuma ah oh ah oh aja.
“Antarin ke toko ya, mau beli pembalut,”
“Iya,”
Setelah beli pembalut, eh aku malah ditawarin ke café diatas bukit, café teringgi di Samarinda dimana dapat melihat kerlip kota Samarinda dari ketinggian. Tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja. Ini impianku saat menuju ke Samarinda, memotret dari ketinggian, dan sekarang semuanya terkabul !
Yah, impianku terkabul, aku dapat mengabadikan apa yang aku inginkan saat itu. Memotret dari ketinggian…dan…itu dengan seorang cowok….keren.
Kerlip lampu dari ketinggian

Bokeh light favoritnya :)

Nongkrong cukup lama disana, aku memutuskan untuk berpindah tempat. Usilnya, aku malah minta nongkrong lagi, dan dia malah menuruti aku. Pikiran nongkrong yang tiba-tiba menyergapku…aku tak tahu itu muncul darimana, yang jelas aku pengen ngobrol yang lama…nggak mau ditinggalin begitu saja, karena waktu untuk bertemu yang terbilang susah. Waktu itu sudah menunjukkan pukul 00.30 WITA, tapi dia tetap ngajakin aku muter-muter Samarinda, cari tongkrongan.

“Mas, kau nggak dicari ortumu apa?”
“Nggak apa-apa, santai aja sama aku.”
“Sori mas, aku jadi nggak enak ngusilin kamu, ngerasa bersalah.”
“Santai aja Ne,”
Jembatan Penyebrangan di Tepian
Dan kami menuju satu kafe ditengah kota, rame cowok nonton bola. Aku dan Fajar masuk ke kafe itu, dan menjai pusat perhatian, mungkin saja aneh, aku cewe berjilbab, masuk kafe sama cowok, dini hari pula !
Smartphoneku tiba-tiba berbunyi, Anjar, temen yang kosnya aku tumpangi selama di Samarinda mengirimku pesan. 

Anjar : Jam berapa pulang? Kos udah digembok neee….

Aku : Gampanglah, aku tidur kantormu aja..


Dalam hati aku hanya bisa minta maaf. Aku terhipnotis oleh lelaki ini sampai mengabaikan pesanmu. Rasanya nyaman dan seneng kalau ngobrol dengan dia, santai, mengalir, dan apa adanya. Yah, walaupun sering bingung juga membuka pembicaraan, tapi kalau diajakin ngobrol ya bikin keterusan sampai nggak mau berhenti.
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 WITA, karena sungkan keluar sama cowok sampai pagi dan temen-temen sudah pada bbm suruh segera pulang, maka dengan berat hati sebenernya, mengakhiri pertemuan pagi itu. Ah gimana ya, susah juga jelasinnya. Aku rasa hanya sebatas kagum saja karena : dia asyik diajak ngobrol, dan banyak kegemaran yang sama denganku. Jadi ya nyambung. Ya, aku mudah kagum dan akrab dengan orang-orang yang setipe dan memiliki kepribadian mirip seperti aku, baik cewek ataupun cowok.
Dan pagi itu, aku putuskan untuk tidur di kantor, diatas kursi yang aku susun sepanjang tubuhku, dan meringkuk didalam sleeping bed.


You Might Also Like

0 comments

Subscribe