Jadilah Bijak dan Cerdas Menggunakan Social Media !

Saturday, June 28, 2014

Statusmu adalah harimaumu, agaknya pepatah itu tidak terlalu berlebihan untuk kondisi zaman yang sedang dibombardir dengan adanya Social Media. Setiap orang tentu saja bebas menggunakan Social Media karena mudah, murah dan gratis. Semua orang dapat terhubung dengan satu genggaman smartphone saja.
Akan tetapi, dibalik semua kemudahan itu pasti ada masalah. Masalah yang timbul akibat arus komunikasi yang bebas, dimana umur sudah bukan menjadi penghalang, wajah jelek bisa menjadi cantik, dan kasus penipuan lain-lain. Bukan hanya itu, tutur kata yang kurang sopan yang dilontarkan tanpa dipikir di socmed pun dapat berujung ke ranah hukum karena beberapa pihak merasa dirugikan. Traffic kasus penipuan dan pelecehan seksual gara-gara socmed pun meningkat akhir-akhir ini? Siapa yang harus disalahkan? Tentu saja pengguna yang tidak bijak mengelola pikiran untuk dituangkan di media yang dapat dibaca oleh semua kalangan. Semua keluhan, derita, dan masalah dengan mudahnya dituangkan di socmed
Kalau menurutku, status yang dituangkan di socmed dapat mempengaruhi emosi pembaca, yah, istilahnya dapat merusak mood pembaca lah. contohnya begini, si A suasana hatinya sedang bergembira, tiba-tiba membaca statusnya si B yang selalu penuh dengan keluhan. Bagaimana kira-kira perasaan si A? Pastilah akan nggrundel dalam hati. Yah, itu sih kalau aku menjadi si A, tergantung pribadi masing-masing juga.
Contoh bully terhadapku di Facebook

Pelakunya padahal sudah dewasa pula -_-
Nah, aku buat postingan seperti ini bukan karena tanpa sebab, aku juga pernah mengalami masalah dikritik secara pedas di Facebook. Masalahnya hanya satu : Aku main biola, terlalu berisik dan mengganggu tetangga sebelah. Eh si tetangga sebelah (nggak aku sebutin gendernya) malah ngamuk-ngamuk di FB ! Seolah-olah menyemai kebencian di teman-teman Facebooknya. Tentu saja, gengnya langsung mendukungnya, ikut berpedas kata ria di kolom komentarnya. Ah, mulai dibilang aku setan, atau gimana gitu. Aku heran aja, kenapa dia tidak berkata langsung denganku? Padahal kan aku tetangganya. Lucunya lagi dia teman satu perusahaan. 
Aku nggak habis pikir, kalau semisalnya berkata langsung, mungkin bisa dicari titik tengahnya seperti apa, bukan hanya kucing-kucingan di FB tanpa jelas pangkal ujungnya. Apa dia malu? Takut aku hajar habis-habisan sampai babak belur?
"Huh, aku sebel sekali saat nulis postingan ini"
Apa yang harus aku lakukan? Diam saja? Anggap saja tidak terjadi apa-apa karena dia tidak langsung berkata didepanku. Anggap saja tidak tahu, cuma aku tahu diri, aku mengecilkan suara biolaku dengan peredam. Mengalah. Hadapi sifatnya dengan dewasa. Umurku sudah 21 tahun, kan? Bukan seperti Karmila yang usianya dari dulu 11 tahun, haha.
Ternyata bukan hanya aku saja yang menjadi korban, teman satu kontrakannya juga. Dicaci maki habis-habisan di FB gara-gara lupa tidak membereskan dapur, temannya ngadu ke aku, katanya sama-sama jadi korbannya. Haduh, susah juga kalau mengahadapi orang seperti itu ya, aku hanya bisa maklum, orang kan sifatnya beda-beda :)
Yah, semoga kamu sadar, tenang, rahasiamu terjaga. Tenang, namamu aku sensor kok.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe